Sabtu, 05 Mei 2012

PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI DAN AGENSIA HAYATI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK JAMUR AKAR PUTIH PADA JAMBU METE


ABSTRAK

Penyakit busuk jamur akar putih (JAP) sampai saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu OPT utama pada tanaman jambu mete di Indonesia. Penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan berproduksi dan kematian 
tanaman jambu mete. Penelitian penanggulangan penyakit JAP jambu  mete telah  dilaksanakan di desa Kayangan, Kabupaten Lombok Barat NTB dan laboratorium Fitopatologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat,  pada tahun 2002 – 2004. baca selengkapnya disini baca juga Teknik pengendalian hama dan penyakit dengan jamur antagonis disini

Mengatasi Hama Wereng Coklat


Oleh: Itang Sutisna, SPdi

Foto Wereng CokelatLedakan hama wereng terjadi di sebagian besar lahan sawah di Kabupaten Karawang, bahkan sudah mengakibatkan kembalinya virus tungro /penyakit kerdil yang sudah lama tidak terjadi di Karawang. Banyak biaya yang sudah dihabiskan oleh para petani untuk mengatasinya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, hama makin mengganas. Sebaiknya para petani berpikir ulang, mengapa dengan penyemprotan berbagai macam merk pestisida, masih belum dapat mengatasinya.
Penyemprotan pestisida yang berlebihan menyebabkan semakin imun atau kebalnya hama tersebut. Yang terjadi di Karawang adalah penggunaan pestisida kimia di atas ambang batas pemakaian yang akan dengan sendirinya meracuni tanah dan air yang ada di dalam tanah.
Kita tahu masyarakat Karawang masih banyak yang menggunakan air tanah, memang belum ada pengecekan terhadap air tanah yang digunakan, jadi belum dapat diketahui seberapa tinggi tingkat pencemarannya. Perlahan dengan pasti, kita meracuni bukan hanya diri kita sendiri,tetapi keseluruhan keluarga kita, seperti yang kita ketahui pestisida yang ada di dalam tanah dan air, tidak dapat terurai secara otomatis, harus digunakan penanganan tertentu, dengan dimasak matang pun, yang terbunuh hanya kuman, tetapi cemaran kimia masih tetap ada.
Tulisan ini dibuat atas dasar kecemasan akan masa depan masyarakat Karawang, dengan mengkonsumsi hasil tanaman dan air yang tercemar, akan menyebabkan timbulnya wabah penyakit baru.
Ada cara yang lebih arif, yang dapat ditempuh oleh para petani Karawang, dengan cara penggunaan agents hayati dan pestisida nabati. Agents hayati adalah penghalau hama dengan menggunakan mikroorganisme dan jamur yang menjadi musuh hama tersebut seperti Beauvaria sp yang efektif untuk hama wereng coklat dan walang sangit, Corynebacterium untuk mengatasi penyakit kresek.
Sedangkan pestisida nabati adalah pestisida yang dapat dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di sekitar kita, mudah didapat dan terjangkau harganya seperti buah berenuk, umbi, gadung racun, jahe, lengkuas, sambiloto, mimba, jengkol, mengkudu dan masih banyak lagi. Dengan penggunaan agents hayati dan pestisida nabati ini selain bertani dengan biaya rendah, kita juga tidak mencemari lahan dan air, setidaknya kita mewariskan hal-hal yang baik bagi generasi penerus kita.
Agents hayati bisa didapat di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBP-OPT) yang berlokasi di Jatisari Karawang. Agents hayati ini harganya sangat terjangkau dan efektifitasnya setara dengan pestisida kimia, dan satu lagi keunggulannya adalah dapat diperbanyak sendiri. Ya betul, dibuat sendiri oleh para petani, selain caranya mudah juga dapat menekan biaya.
Berdasarkan pengalaman kami yang menggunakan agents hayati Beauvaria sp, tanaman padi kami tidak terserang hama wereng, karena bisa buat sendiri, kami dapat melakukan penyemprotan awal sebagai langkah pencegahan. Mengingat hal ini, kami menghimbau kepada para petani Karawang agar segera beralih ke produk yang aman bagi lingkungan.
Perbaikan kondisi lahan sawah dengan pemakaian pupuk kompos jerami sebagai pupuk dasar,kompos kotoran hewan sebagai pupuk tambahan,berikut pupuk cair yang kita bisa buat sendiri sekaligus pestisida buatan sendiri akan membawa hasil yang jauh lebih baik daripada yang sekarang ini.
Ada alternatif yang bagus dan baik sekaligus murah bagi para petani untuk menanam padi. Mudah-mudahan tulisan ini lewat Karawang Info dapat disampaikan pada para petani, semoga petani Karawang bisa sejahtera.


Jumat, 04 Mei 2012

Budidaya klengkeng



BIBIT BUAH TROPIS(BUDIDAYA KELENGKENG)



Syarat TumbuhKelengkeng lebih cocok ditanam di dataran rendah antara 200-600 m dpl yang bertipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih dari empat bulan. Air tanah antara 50-200 cm. Curah hujan 1.500-3.000 mm per tahun dengan 9-12 bulan basah dan 2-4 bulan kering. Sementara tanaman led lebih senang pada dataran tinggi antara 900-l.000 m dpl.Pedoman BudidayaPerbanyakan tanaman dilakukan dengan cangkok dan okulasi. Perbanyakan dengan biji tidak dianjurkan karena umur berbuahnya cukup lama (lebih dari tujuh tahun). Selain itu, bibit dari biji sering tumbuh menjadi lengkeng jantan yang tidak mampu berbuah. Bibit okulasi/cangkokan mulai berbuah pada umur empat tahun. Budi daya tanaman Lengkeng ditanam pada jarak tanam 8 m x 10 m atau 10 m x 10 m dalam lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 50 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah matang sebanyak 20 kg. Pupuk buatan yang diberikan sebanyak l00-300 g urea, 300-800 g TSP (400- 1000 kg SP-36), dan l00-300 g KCl untuk setiap tanaman. Pupuk diberikan tiga kali dalam selang tiga bulan. Setelah panen buah, pemberian pupuk cukup sekali sebanyak 300 g urea, 800 g TSP, dan 300 g KCl per pohon.
PemeliharaanPemeliharaan penting adalah pemangkasan cabang yang tidak produktif dan ranting-ranting yang menutup kanopi. Dengan demikian, sinar matahari dapat masuk merata ke seluruh bagian cabang. Tumbuhan parasit (benalu) harus cepat dibuang. Tanaman lengkeng termasuk mudah tumbuh, tetapi sukar berbunga. Oleh karena itu, diperlukan stimulasi pembungaan dengan jalan mengikat kencang batang yang berada satu meter di atas permukaan tanah. Batang dililit melingkar sebanyak 2-3 kali dengan kawat baja. Tanaman mulai berbunga pada umur 4-6 tahun. Biasanya,tanaman ini berbunga pada bulan Juli-oktober. Buah matang lima bulan setelah bunga mekar.Hama dan PenyakitHama yang biasa menyerang tanaman lengkeng adalah serangga pengisap buah (Tessaratoma javanica). Kelelawar merupakan binatang hama yang sering merusak buah yang matang. Penyakit yang sering menyerang saat musim hujan adalah mildu seperti yang menyerang tanaman rambutan. Untuk mencegah serangan kelelawar, pentil buah dibrongsong dengan brongsong yang dibuat khusus.Panen dan Pasca PanenMusim panen lengkeng di bulan Januari-Februari dengan produksi 300–600 kg per pohon. Lengkeng termasuk buah non-klimakterik sehingga harus dipanen matang di pohon karena tidak dapat diperam. Pemanenan dilakukan dengan alat yang dapat memotong tangkai rangkaian buah. Alat panen berupa gunting bertangkai panjang yang tangkainya dapat diatur dari bawah. Tanda-tanda buah matang adalah warna kulit buah menjadi kecokelatan gelap, licin, dan mengeluarkan aroma. Rasanya manis harum, sedangkan buah yang belum matang rasanya belum manis.Tema Artikel: budidaya buah lengkeng, cara menanam lengkeng dari biji, gambar dan cara pembudidayaan kelengkeng, cara budidaya lengkeng, cara pembibitan lengkeng, budidaya kelengkeng, cara menanam lengkeng, cara tanam Lengkeng, berkebun buah pear, makalah budidaya manggis, makalah budidaya tanaman klengkeng, cangkok kelengkeng, cara menanam buah lengkeng dari biji, cara okulasi buah klengkeng, tanaman lengkeng

Budidaya rambutan dalam pot


Budidaya Rambutan dalam Pot


Tanaman Buah dalam Pot
 Rambutan (Nephelium lappaceum L.) satu family dengan Lengkeng (Nephelium longanum), berasal dari Asia Tenggara terutama dari Indonesia dan Malaysia, daging buahnya banyak mengandung air, protein lemak, glukosa, sukrosa, fruktosa, pati serat, asam malat, asam sitrat, kalori, vitamin C, thiamin, riboflavin, niacin, kalsium, natrium, kalium, magnesium, besi, seng dan fosfor. Bagian yang dapat dimakan sekitar 40 %Bunga rambutan terdiri dari bunga jantan dan bunga hermaprodit (bunga lengkap, mempunyai putik dan benang sari). Bunga jantan biasanya terdapat pada pohon jantan, artinya satu pohon hanya menghasilkan bunga jantan saja.Rambutan banyak jenisnya, yang termasuk jenis unggul antara lain :- Rambutan Binjai- Rambutan Rapiah- Rambutan Lebak Bulus- Rambutan Bangkok- Rambutan Antalagi- Rambutan Garuda- Rambutan Si Batuk

Rambutan dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian tempat dari rendah sampai 600 mdpl. Ketinggian tempat yang optimum adalah 1-250 mdpl. Tanah yang cocok adalah tanah subur, gembur dan mengandung humus dengan derajat keasaman (pH) tanah 4,5-6,5. Rambutan memerlukan curah hujan yang cukup banyak, 7-9 bulan basah setahun.Penanaman dalam Pot


Bibit


Rambutan dapat diperbanyak dengan biji, cangkok, okulasi, dan susuan. Untuk penanaman di pot pilihlah bibit yang berasal dari hasil cangkokan, bibit ini dapat menghasilkan buah setelah 2-3 tahun. Bibit yang berasal dari biji sangat lambat berbuah dan kualitas buahnya belum tentu sama dengan pohon induknya. Sedangkan bibit hasil okulasi dapat berbuah setelah 4-5 tahun.Pencangkokan yang baik dilakukan pada musim hujan. Pilihlah batang yang berdiameter sekitar 1-5 cm yang sudah pernah menghasilkan buah (minimal 2 kali) dan banyak daunnya. Kupas kulit batangnya sepanjang kira-kira 2,5 cm. Diamkan selama 1-4 minggu. Tutup dengan media moss (lumut) yang sudah dibasahi dan bungkus dengan plastik transparan (kresek putih). Setelah 3 bulan akar yang tumbuh akan kelihatan memenuhi media cangkok dan cangkokan sudah dapat dipotong.


Pot dan Media Tanam


Pakailah pot dengan diameter 30 cm dan tinggi 35 cm atau pot yang lebih besar lagi, makin besar ukuran pot maka makin mudah tanaman tumbuh dengan normal. Isilah dasar pot dengan ijuk dan pecahan genteng (atau bisa dengan media lain seperti busa sterofom, batu kerikil, atau media lain yang mudah mengaliran air) setinggi 5 cm sebagai penahan keluarnya media tanam saat penyiraman. Kemudian isi pot dengan media tanam yang terdiri dari campuran tanah subur, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan yang sama sampai penuh. Atau bisa juga dengan campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5:1:2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1:1:1. Dan ada lagi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1:1.


Penanaman


Sesudah cangkokan dipotong, kurangi daun sampai setengahnya untuk mengurangi penguapan. Kalau bibit terlalu tinggi bisa dipotong agar tanaman yang baru ditanam nantinya tidak sering tergoyang karena angin atau penyiraman.Penanaman yang baik dilakukan pada saat suhu udara tidak terlalu panas (pagi atau sore). Lubangi media tanam seukuran pembungkus akar cangkokan, buka plastik pembungkus akar cangkokan dan bibit dapat ditanam di pot. Tempatkan tanaman pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung selama sekitar 1 minggu atau sampai tanaman mengeluarkan tunas baru, sesudah itu secara bertahap tanaman dapat di pindah pada tempat yang terkena cahaya matahari penuh.


Perawatan


Perawatan meliputi penyiraman, pemangkasan, pemupukan, penggemburan media tanam dan pengendalian hama dan penyakit tanaman serta gulma (tumbuhan pengganggu).Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tajuk tanaman. Setiap pangkasan akan memunculkan beberapa tunas baru, pilihlah 3 tunas yang sehat untuk ditumbuhkan. Makin banyak cabang dan ranting maka makin banyak pula tempat keluarnya bunga. Pemangkasan juga dilakukan untuk membuang tunas liar atau tunas yang sakit dan tidak produktif.Pemupukan dilakukan setiap bulan. Pupuk ditanam di sekeliling pinggiran pot dan dilakukan penyirama setiap selesai memberi pupuk.Pergantian Pot dan Media TanamSetiap 3-5 tahun sekali dapat dilakukan pergantian pot kalau ukuran pot sudah tidak sebanding dengan ukuran tanaman atau potnya rusak. Kalau tidak ingin mengganti ukuran pot maka hanya media tanamnya saja yang diganti. Indikator yang menunjukkan perlunya pergantian media tanam adalah apabila media tanam sangat padat dengan akar tanaman dan banyak akar yang keluar pada lubang drainase pot serta pertumbuhan tanaman menjadi lambat.Cabutlah tanaman beserta media tanamnya. Potonglah sekeliling media tanam berikut akar tanaman sekitar 5 cm dari pinggir media tanamnya. Dan potong juga bagian bawahnya dengan pisau yang tajam secara perlahan. Kemudian isi pot kembali dengan media tanam yang baru dan tanam kembali tanaman pada pot tersebut. Setiap pemotongan akar harus diimbangi dengan pembuangan sebagian daun, apabila tidak dilakukan maka secara alamiah tanaman akan menggugurkan (layu) daunnya sendiri.Terlepas dari petunjuk teknis di atas, perawatan yang terbaik adalah perhatian kita terhadap tanaman tersebut. Makin diperhatikan biasanya tanaman akan lebih memberikan hasil sesuai yang kita harapkan.

Budidaya pisang

BUDIDAYA PISANG

I. PENDAHULUAN

Pisang adalah tanaman buah , sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam skala rumah tangga ataupun kebun pemeliharaannya kurang intensif. Sehingga, produksi pisang Indonesia rendah, dan tidak mampu bersaing di pasar internasional. Untuk itu PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu petani meningkatkan produksi secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (Aspek K-3).
 

II. SYARAT TUMBUH
2.1. Iklim
a. Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis.
b. Kecepatan angin tidak terlalu tinggi.
 
c. Curah hujan optimal adalah 1.520 - 3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering.

2.2. Media Tanam
a. Sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.
b. Air harus selalu tersedia tetapi tidak menggenang.
c. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.
 

2.3.Ketinggian Tempat
Dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl
 



III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
- Perbanyakan dengan cara vegetatif berupa tunas (anakan).
- Tinggi anakan untuk bibit 1 - 1,5 m, lebar potongan umbi 15 - 20 cm.
 
- Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat.
 
- Bibit yang baik daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit.
 

3.2. Penyiapan Bibit
- Tanaman untuk bibit ditanam dgn jarak tanam 2x2 m
- Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7- 9.
 

3.3. Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
- Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
- Simpan bibit di tempat teduh 1 - 2 hari sebelum tanam.
- Buang daun yang lebar.
- Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam larutan POC NASA (1 - 2 tutup), HORMONIK (0,5 -1 tutup), Natural GLIO (1 - 2 sendok makan) dalam setiap 10 liter air, selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
- Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.
 

3.4. Pengolahan Media Tanam
- Lakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak.
- Gemburkan tanah yang masih padat
- Buat sengkedan terutama pada tanah miring dan buat juga saluran pengeluaran air.
- Dianjurkan menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan.
 

3.5. Teknik Penanaman
- Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm pada tanah gembur.
 
- Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
 
- Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September - Oktober).
 
- Siapkan campuran Natural GLIO dan pupuk kandang, caranya: Campur 100 gram Natural GLIO dengan 25 - 50 kg pupuk kandang, jaga kelembaban dengan memercikan air secukupnya, masukkan ke dalam karung, biarkan 1 - 2 minggu.
- Pisahkan tanah galian bagian atas dan bagian bawah.
- Tanah galian bagian atas dicampur Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk kandang (0,5 - 1 kg per lubang tanam), tambahkan dolomit (0,5 - 1 kg/lubang tanam), pupuk kandang 15 - 20 kg/lubang tanam.
 
- Masukkan bibit dengan posisi tegak, tutup terlebih dulu dengan tanah bagian atas yang sudah dicampur Natural GLIO, dolomit dan pupuk kandang, diikuti tanah galian bagian bawah. Catatan : pupuk kandang diberikan jika tersedia, jika tidak dapat diganti dengan SUPERNASA.
- Siram dengan larutan POC NASA (1 - 2 tutup), HORMONIK (0,5 tutup) dalam setiap 5 liter air. Untuk mendapatkan hasil lebih baik, POC NASA dapat diganti dengan POP SUPERNASA. Cara penggunaan POP SUPERNASA: 1 (satu) botol POP SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 5 liter air diberi 5 tutup larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon. -Penyiraman dilakukan 2 - 3 bulan sekali.
Data kebutuhan dan cara pemupukan, adalah sebagai berikut :
 
PUPUK
JUMLAH
KETERANGAN
UREA



207 (kg/ha)


     


Berikan 2x setahun, dalam larikan yang mengitari rumpun lalu ditutup tanah

SP-36



138 (kg/ha)



6 bulan setelah tanam ( 2x dalam satu tahun )

KCl



608 (kg/ha)



6 bulan setelah tanam ( 2x dalam satu tahun )

Pupuk Kandang

0,8-10 (kg/ha)

Pupuk dasar, campur dengan tanah galian bagian atas

Dolomit

200 (kg/ha)

Pupuk dasar, campur dengan tanah galian bagian atas
POC NASA


20 (botol/ha)

Disiramkan 3 bulan sekali
SUPERNASA
10 (botol/ha)
4 bulan sekali



HORMONIK


10 (botol/ha)




Dicampur POC NASA disiram 3 bulan sekali

3.6. Pemeliharaan Tanaman
- Satu rumpun hanya 3 - 4 batang.
 
- Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan).
 
- Setelah 5 tahun rumpun dibongkar diganti tanaman baru.
- Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran dengan tanah.
 
- Penyiangan dan penggemburan jangan terlalu dalam.
 
- Pangkas daun kering.
- Pengairan harus terjaga. Dengan disiram atau mengisi parit saluran air.
- Pasang mulsa berupa daun kering ataupun basah. Tetapi mulsa tidak boleh dipasang terus menerus.
 

3.7. Pemeliharaan Buah
- Potong jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir.
- Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus kantung plastik bening polietilen tebal 0,5 mm, diberi lubang diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Usahakan kantung menutupi 15 -45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah.
 
- Batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.
 



3.8. Hama dan Penyakit
3.8.1. Hama
a. Ulat daun (Erienota thrax.)
Menyerang daun. Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.
 

b. Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Menyerang kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian: sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan PESTONA.
 

c. Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis)
Menyerang akar. Gejala : tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan bibit yang tahan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.
 

d. Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Menyerang bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.
 

3.8.2. Penyakit
a. Penyakit darah
Penyebab : Xanthomonas celebensis (bakteri). Menyerang jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah. Pengendalian: Pemberian Natural GLIO sebelum tanam, dan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
 

b. Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Menyerang daun. Gejala : daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam, membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
 

c. Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Menyerang daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian: : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.
 

d. Layu
Penyebab : bakteri Bacillus sp. menyerang akar. Gejala: tanaman layu dan mati. Pengendalian : membongkar dan membakar tanaman yang sakit, Natural GLIO diawal tanaman
 

e. Daun pucuk
Penyebab : virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Menyerang daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok. Pengendalian: Mengendalikan kutu duan dengan Natural BVR, membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
 

3.9. Panen
- Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah 80 - 100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat.
 
- Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan.
 
- Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.
 
- Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.
 
- Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3 - 10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.